/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
Seorang perempuan menjawab ketukan pada pintu rumahnya, dan menemukan
seorang laki-laki berwajah sedih.
Laki-laki itu berkata, “Saya minta maaf karena menganggu anda. Tetapi saya
sedang mengumpulkan dana untuk sebuah keluarga malang yang masih tetangga
kita. Sang ayah baru kehilangan pekerjaannya, anak-anaknya kelaparan,
barang-barang berharga mereka sudah habis dijual. Tidak lama lagi fasilitas
air dan listrik mereka akan diputus, dan lebih buruk dari itu, mereka harus
meninggalkan apartemen bila mereka tidak mebayar sewa petang hari ini.”
“Saya senang sekali dapat membantu,” kata perempuan itu dengan
sungguh-sungguh. “Tetapi siapakah anda ini?”
“Saya adalah pemilik apartemen itu,” sahutnya.
Smiley…! Jangan mendorong orang lain berbuat baik demi keuntungan diri
sendiri. Jangan menggugah rasa iba orang lain, karena terkadang diri sendiri
yang perlu dikasihani.
(Diadaptasi dari Glenn Van Ekeren, 12 Simple Secrets of Happiness)